Di Balik Pembuatan Kartu Member Sevenist Club : Suka Duka, Teknologi, dan Kekompakan Tim

Jakarta, 31 Januari 2026, Upaya mempererat kembali tali silaturahmi antar alumni SMA 7 Jakarta kini hadir dalam bentuk yang lebih modern: Member Card Sevenist Club. Di balik kartu ID card dan Mini card ada suatu kebanggaan, bangga menjadi alumni SMA 7 Jakarta. Dan juga tersimpan proses panjang yang penuh tantangan, tawa, dan kerjasama tim lintas generasi.

Tujuan awal memang untuk pendataan alumni yang sudah bertahun-tahun diupayakan dari masa kepengurusan Sevenist Club sebelumnya sering melakukan hal tersebut mungkin karena banyak kendala, dan itu kami rasakan saat ini. Tahap paling krusial sekaligus paling menguras energi. Mengumpulkan data alumni dari berbagai angkatan bukan perkara mudah. Banyak data yang sudah tidak aktif, nomor berganti, hingga alumni yang sudah lama tidak terhubung bahkan banyak juga yang sudah meninggalkan kita. Namun berkat semangat ketekadan, kebersamaan, tim pengurus akhirnya merancang suatu kartu yang memiliki banyak manfaat. Tentu tim pengurus Sevenist Club meminta kerjasama dari para ketua atau perwakilan dari seluruh angkatan untuk menginformasikan kepada anggotanya. Tim mempromosikan dengan berbagai cara, mulai dari grup WhatsApp hingga media sosial sebagai cara untuk mensosialisasikan member card Sevenist Club.

Menariknya, proses pendataan hingga produksi kartu ini sudah menggunakan teknologi digital, meski sebagian besar tim penggeraknya tidak lagi berada di usia muda tapi kita harus belajar untuk melek teknologi. “Awalnya sempat gagap teknologi,” ujar JePe/Joko Pranoto 7’87, anggota pengurus kesekretariatan yang juga salah satu tim kami. “Tapi justru di situ serunya. Kita bareng-bareng belajar, ngulik sistem, pakai form online, desain digital, sampai manajemen data hingga membuat barcode”. Dan itu kami belajar dari teman kami yang programmer. Proses belajar bersama ini menjadi pengalaman tersendiri yang mempererat hubungan antar anggota tim.

Setelah belajar teknologi, tantangan berikutnya adalah pembuatan desain kartu member. Diskusi demi diskusi dilakukan untuk menentukan konsep yang merepresentasikan identitas alumni : sederhana, elegan, dan punya nilai kebersamaan. Tak jarang terjadi perbedaan pendapat, namun semuanya berujung pada satu tujuan yang sama—membuat kartu yang membanggakan bagi seluruh alumni SMA 7 Jakarta.

Tahap selanjutnya adalah promosi dan sosialisasi. Tim bergerak aktif memperkenalkan kartu member ini melalui media sosial dan grup ketua atau perwakilan angkatan. Tim meminta para pengurus yang kebetulan juga sebagai ketua angkatan untuk membantu mengajak anggotanya untuk membuat member card Sevenist Club. Tidak hanya itu, tim kami juga turun langsung ke berbagai pertemuan lintas angkatan, menghadiri acara kumpul alumni tiap angkatan, reuni kecil, hingga forum resmi seperti pengajian. Dari situlah interaksi langsung terbangun, diskusi mengalir, dan antusiasme alumni semakin terasa.

Meski melelahkan, seluruh proses ini diwarnai dengan banyak cerita seru—mulai dari rapat dadakan, miskomunikasi kecil, hingga momen kebersamaan yang tak terlupakan. Semua suka duka tersebut menjadi bagian dari perjalanan yang berharga.

Lebih dari sekadar kartu, program ini menjadi simbol bahwa alumni SMA 7 Jakarta tetap bisa beradaptasi dengan zaman, bekerja sama lintas usia, dan membangun kembali koneksi lama dengan cara yang relevan. Sebuah bukti bahwa semangat kebersamaan tidak pernah lekang oleh waktu.

Ribet, Seru, dan Bikin Ketawa

Kalau lihat kartu member Sevenist Club, mungkin kesannya simpel. Tapi di balik kartu itu, ada proses panjang yang penuh cerita—mulai dari ribetnya mensosialisasikan ke angkatan senior, bagaimana caranya mengisi form yang ada di website. Bagaimana caranya upload foto dan bukti transfer…dan setelah data masuk ternyata masih saja ada yang mengirim foto yang tidak sesuai persyaratan, wah…seru deh, tapi senang. Bayangkan tim membantu calon member mengisi data sendiri dan mengupload sampai selesai submit, ternyata bisa berkali-kali dan makan banyak waktu. Tapi kami salut dengan para senior yang mau belajar mengisi datanya sendiri. Artinya mereka belajar teknologi, mereka bisa kok, hanya memang harus pelan-pelan belajar dan berlatih.  Awalnya saja mereka bingung, tapi lama-lama justru jadi seru. Ada yang salah klik, ada yang lupa save, tapi semua jadi bikin ketawa.

Salah satu bagian paling “menantang” justru datang dari unggah foto. Tim pengurus member card sudah menetapkan syarat foto yang dikirim, adalah : tidak boleh pas foto, tidak pakai kacamata hitam, harus foto gaya, bukan hasil crop, tidak pecah, harus Resolusi tinggi (hi-res). Jelas dong aturannya. Sosialisasinya juga sudah. Tapi… ya namanya juga alumni ya, tetap saja ada yang kirim foto buram, foto hasil crop dari rame-rame, bahkan ada yang kirim foto KTP.  Ada juga yang pakai kacamata hitam dengan pose super santai. Tim cuma bisa geleng-geleng sambil ketawa, lalu minta revisi—lagi dan lagi.

Soal administrasi, tim juga nggak main-main. Data yang masuk selalu di-cross check, termasuk keuangan yang dicek langsung bersama bendahara. Semua transaksi dicatat rapi, transparan, dan dicek ulang biar nggak ada yang kelewat.

Capek? Jelas. Tapi semua terbayar karena proses ini bukan cuma soal kartu, melainkan soal kebersamaan dan reconnect antar alumni. Dari yang tadinya cuma urusan reuni akbar lintas angkatan atau pertemuan di acara taklim tiap bulan, atau bahkan yang tadinya tidak saling kenal padahal tetangga eh jadi kenal malah banyak cerita seru, semua berubah jadi ruang ketemu, nostalgia, dan tentu tim pengurus member cardnya juga makin solid karena sering bersama hadir di acara-acara angkatan, dan selalu meeting tiap hari gak kenal waktu, hingga setiap dua minggu sekali ketemu untuk membahas up date data yang masuk dan laporan keuangannya. Di momen inilah semua dicek ulang—mulai dari progres pendataan, desain, sampai kesiapan produksi kartu. Itulah cerita di balik layar keseruan tim member card. 

Semangat dan ketekadan tim pengurus member card terus dipacu oleh Ketua Umum Sevenist Club. Walau beliau sedang di luar kota, namun laporan up date tentang proses pendataan tetap intens diketahui. BigBro/Hamzah Lukman 7’87, Ketua Umum Sevenist Club mengatakan bahwa member card ini memiliki tantangan terbesar justru datang dari proses adaptasi teknologi. “Sebagian besar para member senior sudah nggak muda lagi. Tapi justru di situ serunya. Mereka belajar mengenal teknologi dengan mendaftar di website, dan tim pengurus member card akan membantu membimbing kakak-kakak senior dalam pengisian data, dan akhirnya bisa jalan,” ujarnya. Ditambahkan juga, “kalau alumni masukkan data saat malam, paginya saja di rekap. Kan pengurus harus istirahat.” Lalu dijawab sama tim member card , “wah jangan ditunda, mungkin waktu senggangnya mereka yah saat orang sudah lelap”.

Hal lain juga disampaikan oleh Sekjen Sevenist Club  yang sekaligus sebagai ketua tim pengurus Member Card, Dided/Deddy Satiajaya 7’87,”Diskusi desainnya lumayan panjang, belum lagi diskusi mau buat kartu seperti apa, kartu berbayar kah ? kerjasama dengan bank mana? Dan lain-lain….Tapi karena pengurus memikirkan anggotanya, mempertimbangkan kelebihan dan kekurangan dari kartu berbayar maka akhirnya diputuskan hanya berbentuk ID Card saja dengan bonus mini card dan lanyard juga ada klip buat di saku dan printilan lainnya.”

Sementara itu, dalam proses sosialisasi, respons dari anggota Sevenist Club cukup positif. Banyak yang antusias ketika kartu member diperkenalkan langsung di acara pertemuan angkatan. “Datang langsung ke acara angkatan bikin komunikasinya lebih cair. Banyak yang tertarik karena dijelasin langsung,” tambah Boed/Sri Budiyanti 7’85 , Kabid Humas, yang sekaligus tim pengurus member card.

Boed 7’85 menambahkan, “Kesibukan tim belum berhenti di urusan data dan kartu. Tantangan lain yang nggak kalah ribet adalah mencari merchant partner. Prosesnya benar-benar dari nol: pendataan calon merchant, lanjut chat satu-satu lewat WhatsApp atau DM, ada yang harus ditelpon langsung, dan ada yang minta ketemu untuk jelasin konsep, manfaat, sampai akhirnya masuk ke tahap kerja sama dan kontrak. Nggak semua langsung nyambung. Ada yang slow respon, ada yang baca doang, ada juga yang tertarik tapi butuh waktu mikir. Tapi tim nggak nyerah. Pelan-pelan, satu per satu merchant berhasil diajak kerja sama.”

Alhamdulillah, dari proses panjang itu, kini sudah 37 merchant partner resmi yang bergabung. Mulai dari tempat makan dan nongkrong, layanan jasa, sampai kebutuhan pendidikan dan kesehatan.

Keseruan dan kelucuan menghiasi kesibukan tim member card, memang pekerjaan sosial kalau dikerjakan dengan happy maka jadi akan lebih  bermakna dan berdampak positif. Terus terang ini perasaan yang timbul saat ini dari tim pengurus member card.

Salah satu keseruan lainnya adalah saat sosialisasi disampaikan oleh Mimin, admin Sevenist Club, melalui videonya Mimin menjelaskan secara detail bagaimana cara mendaftar, dan penggunaan dari kartu. Lucunya, Mimin ini memang ramah dan cantik. Sayangnya, kebaikan Mimin kadang dibalas dengan tingkah usil anak SMA 7. Iya, Mimin sering digangguin. Bukan ganggu serius sih, lebih ke godaan receh khas cowok-cowok alumni. Dari chat iseng minta ketemuan, tanya angkatan berapa, tanya suka hadir di acara alumni nggak? sampai komentar bercanda lainnya. Dasar ya… cowok emang iseng banget. Hahaha….

Nah, ada lagi keseruan lainnya adalah dimarahin alumni. Kartunya belum jadi, kartunya kok belum diterima, kartunya kapan jadinya? Kartu saya kenapa dikasih ke alumni, dll pernyataan dan pertanyaan dari alumni. Padahal untuk proses produksi agak cukup ribet karena di kartu masing-masing ada barcode yang isinya connect ke data orang tersebut. Jadi mulai dari disain sampai sudah jadi harus dicek lagi apakah barcodenya benar. It doesn’t matter, marahnya alumni jadikan keseruan aja.

Member Card Sevenist Club, Lebih dekat lebih manfaat

Lebih dari sekedar kartu, Member Card Sevenist Club ini jadi ruang buat alumni saling reconnect, belajar teknologi bareng, dan—tentu saja—ketawa bareng karena cerita-cerita kecil yang muncul di sepanjang proses.

Dengan member card alumni, anggota bisa menikmati berbagai manfaat—datang langsung ke suatu tempat, pesan barang, dapat layanan khusus, bahkan memanfaatkan program pendidikan untuk anak, cucu, atau untuk pengembangan diri sendiri.

Intinya, kartu ini bukan cuma simbol keanggotaan, tapi juga punya manfaat nyata dalam kehidupan sehari-hari. Dari urusan gaya hidup sampai pendidikan, semuanya dirancang supaya alumni benar-benar merasa diuntungkan. Dan lagi-lagi, semua itu lahir dari kerja tim yang konsisten, komunikasi yang intens, dan kemauan buat terus ngulik meski prosesnya panjang. Ribet? Iya. Tapi hasilnya bikin bangga.(YA)

Leave a comment